browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Muhasabah Diri

Posted by on 7 June 2011

Apa sih muhasabah itu??
Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab/menghitung. Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikan dengan menilai diri sendiri/mengevaluasi/introspeksi diri untuk meningkatkan kualitas diri dengan selalu mengambil hikmah dari setiap sesuatu yang terjadi dalam diri kita. Namun, hakikatnya sering disalahpahami mayoritas orang. Mereka beranggapan introspeksi diri adalah mengingat perbuatan dosa yang telah dilakukan, dengan menyesali dan menangisinya. Padahal, pengertian tersebut bukanlah termasuk ke dalam muhasabah, namun itu adalah salah satu dari syarat-syarat taubatan nasuhan (taubat yang murni).

Apa perlunya kita melakukan muhasabah diri?

Hal ini erat kaitannya dengan rasa syukur dan perbuatan apa yang telah kita lakukan untuk merealisasikan rasa syukur tersebut. Sering kali kita menilai orang lain lebih rendah dari kita, lebih hina dan lebih buruk dari kita, alias kita merasa sombong dan paling benar, dan ini bisa menimbulkan rasa ujub dan sombong. Atau sebaliknya, kita terlalu berlebihan menilai orang lain, sehingga menimbulkan perasaan rendah diri, lalu iri, menjadi dengki dan benci, kemudian mulai menghasut yang tidak-tidak alias fitnah. Seperti kata pepatah “gajah dipelupuk mata tidak tampak, semut disebrang lautan nampak”, karena itulah menghitung diri sendiri jauh lebih penting daripada mengoreksi orang lain. Dengan muhasabah diri, kita akan disibukkan dengan menilai / mengoreksi diri kita sendiri daripada sibuk menilai orang lain.

Sering kita lihat seseorang/sekelompok orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain, dan celakanya, kitapun acap kali ikut nimbrung dalam forum maksiat tersebut, entah dengan sadar maupun tidak. Orang beramai-ramai menyalahkan kinerja pemerintah dan birokrasi yang buruk (termasuk saya juga, karena pengalaman :D). Mengeluhkan ini itu tentang segala sesuatu, inginnya selalu menuntut yang terbaik, banyak maunya, banyak syaratnya, banyak permintaannya. Menuntut, menuntut dan selalu menuntut agar orang lain bisa memberikan yang terbaik untuk kita, yah, begitulah manusia. Tapi sadarkah kita, jika kia selalu menuntut orang lain, bagaimana dengan diri kita? Apa kita sudah menjadi pribadi yang terbaik, atau minimum telah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Mengapa kita tidak mencela dan menghukum diri sendiri, atas segala kesalahan dan kekhilafan yang kita lakukan. Sebelum berharap dan menuntut yang terlalu tinggi terhadap perbuatan baik orang lain, perbaikilah dirimu sendiri terlebih dahulu. Tanyakan pada diri sendiri, apakah apa yang kita lakukan sudah benar? Benar menurut apa? Sudahkah kebenaran itu sesuai dengan dalil yang ada, yang terpercaya sumbernya. Mampukah kita berfikir rasional, saat menilai diri sendiri dengan seadil dan sejujur-jujurnya. Memperbaiki diri itu perbuatan baik, perbuatan baik itu memancarkan keindahan dalam bersikap, dan keindahan itu menyejukkan mata yang memandang, dan pemandangan yang indah di tengah-tengah kerusakan moral bangsa ini adalah sesuatu yang langka, yang hebat, yang luar biasa, dan dirindukan banyak orang kehadirannya.

Bagaimana cara melakukan muhasabah?

Ada 4 tahapan yang dapat ditempuh agar muhasabah kita dapat berjalan dengan baik.

1. Mu’ahadah

Yaitu mengingat-ingat kembali janji yang pernah kita katakan/ucapkan/ikrarkan, baik itu kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Tuhan.
Setiap saat, setiap shalat kita seringkali bersumpah kepada Allah : إيّاك نعبد و إيّاك نستعين
Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolong“.

Kemudian kita berjanji ; ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين إن صلاتي “Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Rabb semesta alam”.
Ingat, janji adalah hutang yang harus dibayarkan. Hutang akan dibawa sampai mati, kebayang kalo di akhirat kita masih punya tanggungan hutang, padahal dosa-dosa kita saja sudah sangat banyak dan pahala kita sangat sedikit. Dengan demikian, ada baiknya kita kembali mengingat-ingat janji dan sumpah kita. Semakin sering kita mengingat janji, insya Allah kita akan senantiasa menapaki kehidupan ini dengan nilai-nilai ketakwaan. Inilah yang disebut dengan mua’ahadah.

2. Mujahadah

Adalah bersungguh-sungguh kepada Allah Swt. Allah menegaskan dalam firmannya : والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Orang-orang yang sungguh (mujahadah) dijalan Kami, Kami akan berikan hidayah kejalan kami“.

Terkadang kita ibadah tidak dibarengi dengan kesungguhan, hanya menggugurkan kewajiban saja, takut jatuh ke dalam dosa, sehingga menapaki kehidupan beragama ini dengan asal-asalan. Terutama pada ibadah sholat dan puasa. Sholatnya hanya sekedar gerakan tubuh, dan puasanya hanya sekedar menahan haus dan lapar, tidak ada esensi kesungguhan/kekhusyuk’an dalam melakukannya. Padahal bagi seorang muslim yang ingin menjadi seorang yang bertakwa, maka mujahadah atau penuh kesungguhan adalah bagian tak terpisahkan dalam menggapai ketakwaan di samping mu’ahadah.

3. Muraqabah

Adalah senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt. Inilah diantara pilar ketakwaan yang harus dimiliki oleh setiap muslim dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Perasaan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam bahasa hadisnya adalah Ihsan.
”الإحسان هو أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك”
Artinya : “Ihsan adalah engkau senantiasa beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, kalau pun engkau belum bisa melihat-Nya, ketahuilah sesungguhnya Allah melihat kepadamu”.
Inilah sebagian besar landasan manusia dalam melakukan maksiat/berbuat dosa, karena mereka tak merasa bahwa Allah SWT akan selalu mengawasi. Beberapa orang bahkan sudah tak punya rasa malu lagi, mereka kini berbuat maksiat/dosa dengan secara terang-terangan, naudzubillah.

4. Mu’aqobah

Artinya, mencoba memberi sanksi kepada diri manakala diri melakukan sebuah kekhilafan, memberikan teguran dan sanksi kepada diri kalau diri melakukan kesalahan. Ini penting dilakukan agar kita senantiasa meningkatkan amal ibadah kita, serta mengasah rasa keadilan pada diri kita.
Tak banyak umat manusia yang secara gentle mau mengakui kesalahan dan dosa-dosanya di hadapan manusia lainnya, maupun pada dirinya sendiri. Kebanyakan dari mereka selalu menunjukkan jarinya, melemparkan kesalahan, saling menyalahkan, mencari kambing hitam, bahkan memfitnah. Sifat yang jamak ditemukan di negeri tercinta ini, terutama para pejabatnya.

Dengan rajin bermusahabah, memegang teguh prinsip Islam, yakin dan beriman terhadap rukun iman, insyaallah, mungkin tidak ada lagi yang namanya koruptor, politikus busuk, mafia hukum dan peradilan, pemimpin yang tidak amanah, penguasa yang dzolim, orang kaya yang sombong dan kikir, penipu, perampok serta rakyat yang sok tahu dan mudah diprovokasi. Subhanallah,, perbaikilah diri sendiri, jika kita ingin memperbaiki negeri ini. Akhlak kita sendiri lah yang mengubah negeri ini, bukan orang asing.

Semoga bermanfaat, dan semoga kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran agar mampu melaksanakan muhasabah ini, aamiiin ya robbal alamiiin…

NB : Diambil dan disunting seperlunya dari catatan YMN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>