browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Cara Mengatasi Permasalahan Dalam Hidup

Posted by on 9 June 2011

Dalam setiap kehidupan manusia, tak pernah lepas dari yang namanya masalah (seperti postingan saya sebelumnya). Bukan hanya manusia saja sebenarnya, tapi seluruh makhluk hidup di alam semesta ini, mereka semua diciptakan 1 paket bersama permasalahan dalam hidupnya beserta solusinya. Yang jadi masalah adalah, tidak semua dari kita mampu menemukan solusi yang tepat untuk setiap permasalahan yang mendera hidup kita. Padahal solusi itu tak jauh-jauh dari kita, ia sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri. Memang sulit, tapi patut dicoba, sebab hasilnya sungguh memuaskan, ia akan memberikan semua solusi tentang permasalahan yang mendera kita dan jawaban atas pertanyaan yang mengganggu hati dan pikiran.

Adapun langkah-langkah yang bisa kita jalankan dalam mengatasi masalah yang tengah dihadapi di antaranya adalah :

1. Evaluasi diri sendiri.

Masalah yang terjadi sebenarnya bersumber dari diri sendiri. Jangan terbiasa menyalahkan orang lain atas masalah yang menimpa diri sendiri. Tanyakan pada diri, apa yang telah diperbuat atau kesalahan (dosa) apa yang dilakukan sehingga kejadian buruk menimpa kita. Dengan begitu, setiap orang akan termotivasi memperbaiki kekurangan yang ada dalam dirinya. Apabila belum diketemukan, bertaubatlah dan minta ampunlah kepada Allah, Allah-lah yang aka membimbing kita menemukan apa yang kita cari tersebut. Tapi lakukan taubat yang sungguh-sungguh (taubatan nasuha) dan meminta ampun yang sungguh-sungguh pula, sembari menyematkan rasa penyesalan dalam hati dan berjanji tidak akan melakukan dosa/kesalahan yang sama lagi.

2. Ridho menerima.

Jika hati ridho menerima, keadaan seburuk apapun tidak akan merusakkan hati. Sebaliknya, sikap menolak kenyataan atau tidak ikhlas malah akan menambah beban stres. Menerima kenyataan atau tidak, tetap saja hal itu sudah terjadi, dan tidak bisa dirubah lagi. Maka, sebaiknya ridholah dalam menerimanya.

Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa.” (QS Al-Baqarah : 216)

Ridho bukanlah pelarian atas kejadian yang menimpa, jangan lantas bersembunyi di balik sikap ini ketika ada masalah menghampiri. Ridho bukan berarti berpasrah tanpa ikhtiar. Ridho adalah awal dari solusi. Sebuah permisalan adalah apabila nasi telah menjadi bubur, yang pertama kali harus kita lakukan adalah ridho, dilanjutkan dengan mencari cakue, kacang polong, ayam dan bawang goreng. Jadikan bubur ayam spesial. Baru setelah itu kita evaluasi diri, kenapa kok bisa niat memasak nasi kok jadi bubur, temukan masalahnya, ambil hikmahnya, dan berubahlah untuk menjadi lebih baik.

3. Jangan mempersulit diri dengan rasa iri.

Daripada membuang waktu, lebih baik memperbaiki kualitas diri, dan bekerja keras. Orang yang selalu merasa iri, seringkali lupa cara memperbaiki diri. Mereka lebih sibuk mencaci dan merendahkan orang lain. Ia seakan-akan mempertanyakan rasa keadilan Allah, padahal hanya Allah Yang Maha Adil. Dengan menghindari rasa iri, kita bisa lebih obyektif dalam menghadapi masalah, dan lebih produktif dalam mengembangkan potensi diri.

4. Siapkan hati menghadapi masalah.

Seringkali kita mengalami sesuatu yang tidak sesuai harapan, rencana, keinginan dan perkiraan, padahal tidak semua hal yang kita anggap baik itu juga baik di hadapan Allah. Terkadang, banyak hal yang awalnya kita sesali namun di belakang sangat kita syukuri. Atau mungkin, sesuatu yang awalnya sangat senang bisa didapatkan, namun pada akhirnya kita menyesalinya. Pasti ada hikmah yang dapat diambil di balik setiap kejadian tersebut. Misalnya, orang yang tidak jadi naik pesawat (karena berbagai sebab) dan ternyata pesawatnya menglamai kecelakaan.

5. Jadikan Allah SWT sebagai penolong.

Al-Quran menyerukan agar menjadikan hanya Allah SWT sebagai penolong, diantaranya bisa dengan sabar dan sholat. Jangan sampai kita hanya mengandalkan kemampuan diri untuk mengatasi berbagai permasalahan, sehingga sikap tersebut seakan-akan ingin terlihat hebat di mata sendiri dan orang lain, padahal membuat kita menipu diri sendiri agar orang lain kagum. Akibatnya, manusia akan makin stres karena berupaya selalu ingin terlihat baik di mata orang lain.

Atau, kita malah meminta pertolongan kepada selain-Nya, lalu terjerumus dalam kesyirikan, dosa yang teramat besar dan tak terampuni. Meminta bantuan orang yang dikultuskan (kiyai, dukun, juru kunci, dsb), atau bahkan meminta bantuan kepada jin, syaitan dan golongannya. Dengan dalih bahwa mereka dapat memberikan bantuan dengan lebih cepat, mudah (instan) dan kongkrit. Masalah mengenai hal ini Insyaallah akan saya bahas lebih lanjut di postingan berikutnya.

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (QS Al-Baqarah : 45)

Mudah-mudahan kita senantiasa menyelidiki hati kita sendiri, sehingga kita tidak bersandar pada siapa pun termasuk diri kita sendiri. Cukuplah Allah bagi kita, sempurnakan ikhtiar dan tawakkal kita. Dan biarlah Allah memberikan pertolongan kepada kita dari pintu mana saja yang Allah kehendaki, dan dengan segala rahmat dan hidayah-Nya.

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS Ali-Imran 160)

Agar hidup lebih tenang, yakinkanlah diri ini bahwa Allah SWT sebagai pencipta tidak akan menurunkan masalah tanpa jalan keluar. Dan tidak akan pula menurunkan masalah lebih dari kemampuan hamba-Nya dalam mengembannya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS Al-Baqarah 286)

Semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi, atas segala ujian dan permasalahan dalam hidup ini, dan dapat menjadi insan yang lebih arif bijaksana dalam menyikapi segala dilematika kehidupan, Insyaallah, aamiiin…

NB : Telah disunting seperlunya dan diambil dari catatan YMN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>