browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Harta yang Paling Berharga Adalah …

Posted by on 11 June 2011

Di postingan terdahalu, mengenai sakit, sempat saya singgung mengenai pepatah yang mengatakan bahwa harta yang paling berharga adalah kesehatan, namun saya kurang sependapat. Dan sesuai dengan janji saya, kali ini saya akan mengulas mengenai apa sebenarnya harta yang paling berharga dalam hidup ini, yang tentu saja dari kacamata agama (jangan pake’ kacamata kuda, kasihan kudanya, mau pakai apa?? :D).

Pertama-tama, ada baiknya kita mengetahui definisi dari harta itu sendiri, agar kita tidak rancu dalam memahami kelanjutan dari tulisan ini. Definisi harta menurut kamus bahasa Indonesia adalah: [n] (1) barang (uang, dsb) yg menjadi kekayaan; barang milik seseorang; (2) kekayaan berwujud dan tidak berwujud yang bernilai dan yang menurut hukum dimiliki perusahaan.

Menurut prinsip orang-orang hedonis, harta yang paling berharga di dunia ini bagi mereka apalagi kalo bukan materi, alias uang. Ada kata pepatah, “money is not everything, but its the only thing” (bener-bener keren kata-katanya, ckckckckck… matre soro, hehe.. :P), yang artinya, “uang bukan segalanya, tapi adalah satu-satunya”. Jadi satu-satunya yang terpenting di dunia ini dalam hidup mereka hanyalah uang, tanpa uang tak ada kehidupan (ckckckckck,, sampek segitunya cinta sama duit).

Menurut orang kebanyakan, termasuk masyarakat kita, bahwa harta yang paling berharga adalah kesehatan. Tentu saja, ini sangat berhubungan dengan tingkat kesejahteraan sosial bangsa ini, dimana kesehatan masih menjadi komoditas yang paling mahal. Kalau orang miskin (maaf), tidak dalam keadaan sakit alias sehat walafiat, sudah cukup baginya untuk menjalani dan membiayai hidupnya, sebab tubuhnya masih dapat digunakan untuk bekerja dengan sangat baik. Orang yang kaya raya saja kebingungan setengah mati kalo lagi sakit (apalagi yang udah mendekati ajal), apalagi yang miskin? Sebab yang kayapun tidak akan bisa menikmati kekayaannya dengan syahdu (kayak lagunya bang Rhoma aja :D), bila ia sakit.

Ada lagi masyarakat yang berpendapat, bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Inilah para penganut setia sinetron keluarga cemara (haha,, itu mah judul film atuh, jaman gua SD… J). Tidak sepenuhnay salah memang, sebab, tanpa keluarga, siapa yang akan menjaga kita, jika bukan keluarga sendiri. Untuk siapa kelak kita bekerja dan mencari uang, jika bukan untuk keluarga. Jika kita sedang dalam kesusahan, yang pertama kali membantu kita adalah keluarga. Keluarga disini bukan hanya dalam lingkup hanya orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita, tetapi tetangga dan teman juga adalah keluarga. Dan tanpa keluarga, kita tak berarti apa-apa. Betul demikian??

Tapi menurut saya, harta yang paling berharga di dunia ini, dan kelak  akan dibawa mati juga, adalah iman. Sedangkan, uang, kekuasaan, jabatan, kesehatan dan keluarga adalah tak lebih dari bagian ujian dalam hidup ini, ujian untuk keimanan kita. Tak satupun dari mereka yang akan mengikuti dan menemani kita di liang lahat kelak, sebab mereka hanya titipan, dan harus ditinggalkan alias tidak dibawa mati. Hal ini nyata tercantum dalam beberapa ayat Al-Qur’an berikut :

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara Isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi”. (QS At-Taghaabun 14-15)

Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS Al-Anfaal 28)

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS Ali Imron 186)

Uang bisa dicari lewat bekerja, kesehatan bisa dicari melalui pola pikir dan gaya hidup sehat, keluargapun bisa dicari dari keturunan atau bila kita punya banyak kawan baik. Tapi tidak demikian halnya dengan iman, ia tak dapat dicari, ia tidak pula diturunkan (inheritance) melalui darah daging, ia tak dapat dibeli, juga tidak bergantung dari gaya hidup, ia adalah murni anugerah dari sang pencipta.

Bila kita kehilangan uang, miskinlah jadinya. Bila kesehatan terganggu, sakitlah kita. Bila sanak saudara/ anggota keluarga meninggal, maka sedih dan berdukalah kita. Tapi bila iman kita yang diambil, dunia akhirat kita tidak akan bisa selamat. Sudah berapa banyak pengakuan orang-orang murtad yang seumur hidupnya tidak bisa hidup tenang, tidak merasa bahagia, meskipun mereka hidup berkecukupan, bahkan berkelimangan harta, sehat jasmani dan punya keluarga yang utuh, tapi hati dan pikirannya tidak tenang, tidak tentram, itu karena ia tak punya iman. Dan berapa banyak orang yang hidupnya serba terbatas, atau bahkan mungkin kekurangan, sakit-sakitan, dan hidup sebatang kara, namun hidupnya bisa bahagia, dia bisa menikmatinya, dia bisa tetap bersyukur dengan segala kondisi dan keadaannya, itu karena ia punya iman.

Masih ingat kisah Korun dan hartanya yang segunung, namun tak sedikitpun membawa kebaikan, malah menjadikannya sombong dan menjerumuskannya dalam keseseatan. Kisah nabi Nuh as, yang keluarganya sendiri tidak mau ikut beriman bersamanya dan pengikutnya. Kisah firaun yang terkenal, yang mengaku Tuhan, yang tak pernah sekalipun sakit dalam hidupnya, ia pun tewas ditelan laut merah. Maka, janganlah harta, kedudukan/kekuasaan, kesehatan dan keluarga melalaikan kita dari beriman kepada-Nya. Jadikan ia sarana untuk menuju ketaatan kepada-Nya.

Iman adalah anugerah yang luar biasa hebatnya. Ia bisa mengalahkan dunia dan seisinya. Dengan iman, Allah masukkan rasa kaya dan tentram dalam hati kita. Contoh nyatanya adalah pada pribadi Rasulullah saw, beliau adalah seorang yang miskin, yang juga bisa merasakan sakit, yang keluarganya juga orang-orang kafir, namun cukup dengan iman, beliau saw bisa merasa kaya, tenang dan tentram dalam hidupnya. Seperti pada ayat berikut :

Mereka merasa Telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa Telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, Sebenarnya Allah, dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar“. (QS Al-Hujaraat 17)

Jadi barangsiapa menyerahkan diri patuh kepada Allah dan dalam pada itu melakukan perbuatan baik, mereka tidak perlu merasa takut, tidak usah bersedih hati. Mereka tidak takut akan menghadapi hidup miskin atau hina, sebab dengan iman itu mereka sudah sangat kaya, sangat mendapat kehormatan. Kehormatan yang ada pada Tuhan dan pada orang-orang beriman.

Saya sendiri mengakui, bahwa dimana-mana, yang namanya teori itu jauh lebih mudah daripada prakteknya, bahwa bicra itu lebih mudah daripada berbuat. Demikian pula halnya dengan ini. Tidak ada yang bilang bahwa menjaga iman itu mudah. Pada kenyataanya, di kehidupan sehari-hari kita, harta yang kita anggap benar-benar paling berharga adalah uang, kesehatan dan keluarga. Memang sungguh tidak mudah, apalagi di jaman serba edan seperti sekarang. Tapi janganlah kita berputus asa dalam mengharap rahmat-Nya, meskipun sebegitu hebatnya kita bermaksiat atas segala titipan-Nya (harta benda, kesehatan dan keluarga), sebab iman itu tidak dapat dicari di atas gunung, atau di kedalaman lautan, atau di angkasa luar, atau bahkan di telapak kaki ibu, sebab iman adalah anugerah pemberian-Nya.

Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“. (QS Yusuf 87)

Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Az-Zumar 53)

Karena itu, janganlah kita berputus asa dalam menggapai rahmat dan hidayah-Nya. Jagalah hati dan keyakinan ini terhadap harta yang paling berharga, dunia akhirat, yaitu iman. Tetap semangat menjaga hati dan beramal kebaikan, sebanyak mungkin dan seikhlas-ikhlasnya, semoga bermanfaat, Insyaallah, huwallah hua’lam bisshowab

3 Responses to Harta yang Paling Berharga Adalah …

  1. kangazzet

    Alhamdulillah, senang sekali membaca postingan ini. Makasih banyak ya… Ohya, dulu kita pernah saling sapa kita sobat masih memakai “akzir.wordpress.com”. Selamat ya… blog yang sekarang lebih oke banget. Kalo boleh tahu, gimana nih caranya, hehe…. saya juga kepengen.

    Ohya, setelah sekian lama belajar ngeblog, baru sekarang saya bisa caranya memasang link sahabat di blog saya. Mohon izin memasang linknya ya…. Terima kasih banyak sebelum dan sesudahnya. Selamat berkarya dan salam blogger persahabatan.

    • akzir

      alhamdulillah,,, barokallah,, makasih sekali atas kunjungannya lagi,, iya nih, dulu masih dompleng nama wordpress, sekarang udah gak lagi,, tapi tetep pake’ cms wordpress..

      sebenernya ada beberapa temen juga yang minta diajarin pindah hosting kayak gini, tapi maaf, saya belum ada waktu,, insyaallah saya buatkan postingannya, makasih permintaannya…

      silahkan pasang link saya, saya juga akan pasang link anda,, simbiosis mutualisme,, juga sebagai sarana silaturahmi,, makasih ya…

  2. Ardha Gp

    saya juga minta diajarin mbak. ^_^ masih kikuk nih pake wotpres..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>